Rencana penjualan pabrik nikel milik Vale, perusahaan asal Brasil, di Kaledonia Baru dinyatakan gagal.

Perusahaan Australia, New Century Resources, menyatakan bahwa negosiasi dengan berbagai pihak terkait tidak menghasilkan struktur yang sesuai dengan skenario risiko dan imbal hasil yang dapat diterima oleh para pemegang saham.

Sebagai tanggapan, Vale menyampaikan bahwa mereka mempertimbangkan untuk menutup pabrik di Goro apabila dalam beberapa bulan ke depan tidak ditemukan solusi jangka panjang.

Penolakan terhadap rencana penjualan datang dari partai-partai pro-kemerdekaan dan para pemimpin adat, terutama setelah Vale merestrukturisasi operasinya dan berencana menjual bijih ke luar negeri alih-alih mengolahnya di dalam negeri.

Pemerintah Provinsi Selatan, tempat pabrik tersebut berada, menegaskan bahwa mereka tidak akan membiarkan pabrik tersebut ditutup.

Pemerintah provinsi juga menyatakan akan melakukan segala upaya untuk menyelamatkan sekitar 3.000 lapangan pekerjaan demi mencegah keruntuhan ekonomi di Kaledonia Baru.

Pada bulan Mei, New Century Resources menandatangani kesepakatan awal dengan Vale untuk membeli aset tersebut. Namun, perusahaan tersebut gagal memperoleh pendanaan pada bulan Juli sesuai dengan rencana.

Batas waktu kemudian diperpanjang selama 45 hari, tetapi tetap tidak terpenuhi.

Tiga tahun sebelumnya, Vale telah menyatakan bahwa mereka akan menghentikan operasional pabrik tersebut pada paruh kedua tahun 2018 jika tidak ditemukan mitra yang bersedia membeli 20 hingga 40 persen saham.

Meski demikian, Vale tetap mempertahankan operasional pabrik dan pertama kali menawarkan 95 persen sahamnya untuk dijual pada bulan Desember, setelah mengalami kerugian hingga ratusan juta dolar.

Vale, yang mengakuisisi proyek di bagian selatan pulau utama Kaledonia Baru ketika mengambil alih perusahaan tambang Kanada, Inco, pada tahun 2006, diperkirakan telah menghabiskan sekitar US$9 miliar untuk pembangunan pabrik Goro.

Rencana penjualan tersebut juga mencakup restrukturisasi operasional.

Vale memprioritaskan produksi NHC (nickel hydroxide cake), produk yang kini banyak dicari untuk kebutuhan baterai kendaraan listrik.

Restrukturisasi itu juga mencakup rencana ekspor dua juta ton bijih nikel per tahun dari cadangan yang tersedia untuk pabrik tersebut.

 

Sumber: 8 September 2020

*Artikel ini diterjemahkan dari bahasa Inggris