Produksi nikel Indonesia melonjak seiring aktifnya gelombang kapasitas baru untuk memenuhi permintaan yang terus tumbuh dari sektor baterai kendaraan listrik (EV).

Tambang-tambang di Indonesia meningkatkan output sebesar 41% secara tahunan dalam tujuh bulan pertama 2022, menurut International Nickel Study Group. Produksi kumulatif hingga Juli sebesar 814.000 ton menyumbang 47% dari total global, naik dari 38% pada periode yang sama tahun 2021.

Indonesia turut mendorong kenaikan produksi tambang global sebesar 14% secara tahunan pada Januari–Juli, cukup untuk mengubah keseimbangan pasokan-penggunaan menjadi surplus 29.000 ton dari defisit 146.000 ton pada tahun sebelumnya.

Ini menjadi kabar buruk bagi para pelaku pasar yang berharap harga naik (bulls), karena harga kontrak tiga bulan di London Metal Exchange (LME) kini berada di angka $23.000 per ton — hampir separuh dari puncaknya di bulan Maret sebesar $55.000. Goldman Sachs pun menjadi bank terbaru yang memangkas proyeksi harga mereka.

Namun, ini juga menjadi kabar buruk bagi mekanisme penetapan harga nikel, karena lonjakan pasokan dari Indonesia datang dalam bentuk logam yang tidak diperdagangkan di LME maupun Shanghai Futures Exchange (ShFE).

PRODUKSI MEROKET

Booming nikel Indonesia mencerminkan kekayaan sumber daya mineral negara ini dan dorongan pemerintah untuk mendorong pelaku tambang masuk ke rantai nilai yang lebih tinggi.

Dulu, bijih berkadar rendah diekspor ke pabrik baja tahan karat di China. Namun setelah pemerintah melarang ekspor bijih mentah pada 2020, arus ekspor berubah menjadi nickel pig iron (NPI). Ekspor NPI dan feronikel pun kemungkinan akan dilarang, karena pemerintah kini mengarahkan investasi ke bahan baku baterai EV.

Saat ini Indonesia menjadi tempat eksperimen kimia berskala industri — bagaimana mengubah bijih nikel jenis tertentu menjadi input untuk katoda baterai.

Hasil awal dari eksperimen ini mulai terlihat dalam bentuk peningkatan output produk antara seperti nickel matte dan mixed hydroxide precipitate (MHP), yang dapat diubah menjadi nikel sulfat untuk pembuatan baterai.

Sektor ini saat ini didominasi oleh pelaku asal Tiongkok, sehingga tidak mengherankan jika seluruh nikel ini menuju ke sana.

Komposisi impor nikel Tiongkok pun berubah dengan cepat, seiring masuknya produk-produk baru dari Indonesia. Impor nickel matte dari Indonesia meningkat dari nol tahun lalu menjadi 74.000 ton dalam delapan bulan pertama tahun ini.

Impor MHP dari Indonesia melonjak menjadi 251.000 ton, dari hanya 15.000 ton pada periode yang sama tahun 2021. Produk ini berasal dari pabrik HPAL baru seperti yang dioperasikan PT Huayue, yang mengirimkan pengiriman perdananya ke pelabuhan Ningbo, Tiongkok, pada bulan Februari.

Pada bulan Agustus, impor NPI dan feronikel dari Indonesia mencapai rekor bulanan tertinggi sebesar 583.000 ton.

Dampak dari meningkatnya pasokan bahan mentah ini adalah penurunan minat Tiongkok terhadap logam murni berkadar tinggi. Impor bersih turun 33% menjadi 90.000 ton pada Januari–Agustus.

Nikel Kelas I, bentuk yang paling disukai untuk diubah menjadi nikel sulfat siap pakai baterai, kini mulai tersisih di pasar Tiongkok.

HARGA TURUN

Lonjakan pasokan dari Indonesia sebenarnya sudah diantisipasi, tapi waktunya tidak pasti karena berbagai jalur pengolahan baru sedang diuji coba untuk mengubah bijih menjadi nikel baterai.

“Lonjakan ini kini terlihat jelas, dan menurut Macquarie Bank, telah menggeser pasar ke dalam kondisi surplus struktural yang diperkirakan bertahan selama beberapa tahun ke depan.” (Commodities Compendium, 28 September 2022).

Bahkan Goldman Sachs, yang sebelumnya sangat optimis terhadap harga, kini memangkas target harga tiga bulan dari $26.000 menjadi $16.000 per ton, dan proyeksi 12 bulan dari $28.000 menjadi $20.000.

Kombinasi antara guncangan permintaan di Eropa, lonjakan produksi dari Indonesia, serta menyempitnya selisih nilai antara nikel untuk stainless steel dan baterai, menciptakan potensi penurunan harga hingga 30% sebelum akhir tahun.

Judul riset Goldman Sachs tanggal 26 September — “Nickel: mispriced for a mounting Class II glut” — merangkum semua itu.

MASALAH HARGA

Namun, ada satu kejanggalan dalam narasi pesimis ini.

Meski produsen baterai dan mobil dari Barat mulai tertarik pada sektor nikel Indonesia yang berkembang pesat, sejauh ini fenomena ini masih sangat didominasi oleh Tiongkok.

Negara-negara lain masih sangat bergantung pada pasokan nikel murni untuk diubah menjadi nikel sulfat. Itulah sebabnya stok LME — semuanya berupa nikel Kelas I — terus menipis. Kini jumlahnya turun 49% sejak awal tahun menjadi 51.816 ton.

Pasar Kelas I kini tergantung pada logam asal Rusia, yang meskipun belum terkena sanksi resmi, diperkirakan akan mengalami “self-sanction” untuk kontrak 2023.

Produksi tahunan Nornickel sebesar 200.000 ton — semuanya Kelas I — adalah “kunci arah harga,” menurut Macquarie.

Namun, harga yang dimaksud? Apakah harga nikel LME yang hanya berlaku untuk logam Kelas I, atau harga produk antara seperti matte dan MHP yang kini mendominasi perdagangan antara Indonesia dan Tiongkok?

Baik LME maupun ShFE — yang stoknya bahkan lebih rendah — kini kesulitan menilai secara tepat kondisi pasar global yang mengalami surplus nikel secara umum namun kekurangan pasokan nikel Kelas I.

Kesenjangan antara mekanisme bursa dan realita pasar inilah yang menyebabkan kontrak nikel LME mengalami “kegagalan pasar” pada bulan Maret lalu.

Sejak saat itu, perdagangan nikel di bursa dipenuhi volatilitas, likuiditas rendah, dan lonjakan harga yang tajam.

Spread waktu di LME anjlok minggu ini, dengan selisih antara harga tunai dan kontrak tiga bulan mengalami contango sebesar $167 per ton karena pasar yang tipis bereaksi berlebihan terhadap perubahan biaya pembiayaan dolar.

Sebelum LME menghentikan perdagangan, spread yang sama sempat mengalami backwardation sebesar $840 per ton.

Keterbatasan dalam sistem penetapan harga bursa dalam menangkap spektrum produk nikel yang semakin luas menjadi bagian dari penyebab volatilitas ini.

Situasi ini juga mendorong pelaku pasar — terutama produsen baterai asal Tiongkok — untuk menggunakan metode penetapan harga alternatif, seperti pembayaran berdasarkan harga MHP atau nikel sulfat.

Kini Macquarie Bank bahkan menyediakan tiga proyeksi harga nikel yang berbeda: untuk logam murni di LME, NPI di Tiongkok, dan nikel sulfat di Tiongkok.

Ini menunjukkan bahwa meski jalur teknis antara permintaan lama dan baru terhadap nikel mulai menyatu, kesenjangan harga justru semakin melebar.

Sumber: Reuters, 29 September, 2022

*Artikel ini diterjemahkann dari bahasa Inggris