
Indonesia bertujuan untuk memangkas emisi karbon menjadi 250 juta metrik ton dari sektor listrik yang terhubung ke jaringan (on-grid) pada tahun 2030 dan meningkatkan porsi pembangkit listrik energi terbarukan hingga 44% melalui skema Kemitraan Transisi Energi yang Adil (JETP), sebagaimana tercantum dalam rencana yang diumumkan pada hari Rabu.
Kemitraan ini merupakan skema pembiayaan berupa investasi ekuitas, hibah, dan pinjaman berbunga ringan dari negara-negara anggota Group of Seven (G7), bank multilateral, serta pemberi pinjaman swasta, yang bertujuan membantu negara berkembang beralih ke energi yang lebih bersih di sektor ketenagalistrikan.
Rencana investasi dan kebijakan komprehensif (Comprehensive Investment and Policy Plan/CIPP) Indonesia untuk kemitraan ini dipublikasikan untuk menggambarkan jalur yang akan ditempuh negara Asia Tenggara tersebut dalam mengamankan pendanaan sebesar $20 miliar melalui program ini.
Sebelumnya, Indonesia dan kelompok investor yang dipimpin oleh Amerika Serikat dan Jepang telah sepakat untuk memuncakkan emisi sektor listrik sebesar 290 juta ton pada 2030, serta meningkatkan porsi energi terbarukan dalam pembangkitan listrik menjadi 34%, namun saat itu sistem listrik off-grid belum sepenuhnya dipetakan.
CIPP yang dirilis Rabu ini tidak mencakup apa yang disebut sebagai pembangkit listrik captive, yaitu sistem off-grid yang dibangun dan dikelola oleh industri untuk kebutuhan mereka sendiri.
Pembangkit listrik tenaga batu bara captive dengan kapasitas 13,74 gigawatt (GW) saat ini beroperasi di Indonesia dan 20,48 GW sedang direncanakan. Lonjakan terbaru ini disebabkan oleh ekspansi sektor pengolahan logam, menurut laporan bulan Juli yang ditugaskan oleh Bank Pembangunan Asia (ADB).
Pembangkit listrik tenaga batu bara yang dioperasikan oleh industri tidak dimasukkan dalam rencana karena pemerintah masih membutuhkan waktu untuk merumuskan cara melindungi sektor peleburan nikel, kata seorang pejabat yang terlibat dalam program tersebut sebelumnya.
“Meskipun sistem pembangkit captive off-grid berada di luar cakupan CIPP saat ini, Indonesia dan IPG memiliki komitmen kuat untuk mengidentifikasi dan menerapkan solusi yang layak ke depannya,” kata Sekretariat JETP Indonesia dalam rencana tersebut.
Tanpa rencana ini, emisi gas rumah kaca Indonesia diperkirakan akan melebihi 350 juta ton pada tahun 2030.
PENDANAAN
Meskipun rencana ini bertujuan mengamankan pendanaan $20 miliar dari G7, dengan $10 miliar berasal dari pendanaan publik dan $10 miliar dari pemberi pinjaman swasta, Sekretariat menyatakan bahwa mereka telah mengidentifikasi lebih dari 400 proyek prioritas yang memerlukan investasi minimal $67,4 miliar.
Rencana tersebut menunjukkan bahwa dari $20 miliar yang dijanjikan, sebesar $153,8 juta telah diidentifikasi sebagai hibah. Sisanya dari pendanaan publik bisa berupa pinjaman lunak dengan suku bunga di bawah pasar, menurut Sekretariat.
Kantor JETP Indonesia akan mencocokkan proyek-proyek dengan skema dan struktur pembiayaan yang sesuai, berdasarkan prioritas, demikian bunyi pernyataan dalam rencana tersebut.
Pendanaan dari pihak swasta dapat berbentuk pinjaman komersial dengan suku bunga pasar, investasi ekuitas, atau bentuk lainnya, berdasarkan rencana tersebut.
Penghentian dini pembangkit listrik tenaga batu bara akan dilakukan untuk kapasitas sebesar 1,7 GW hingga tahun 2040, berdasarkan isi rencana tersebut.
Tiga negara lain juga telah merundingkan skema JETP.
Anggota G7 menawarkan Vietnam sekitar 2% dari total paket pembiayaan JETP sebesar $15,5 miliar dalam bentuk hibah, sementara sebagian besar pinjamannya akan dikenakan bunga sesuai suku pasar, menurut dokumen yang ditinjau oleh Reuters.
Afrika Selatan memperoleh kesepakatan JETP pertama dengan komitmen pembiayaan sebesar $8,5 miliar, namun rencana ini mendapat kritik dari serikat pekerja yang khawatir akan hilangnya lapangan kerja di wilayah tambang batu bara miliknya.
Pada bulan Juni, Senegal mengumumkan JETP senilai 2,5 miliar euro yang bertujuan untuk meningkatkan porsi energi terbarukan dalam kapasitas terpasangnya menjadi 40% pada tahun 2030.
Para ahli mengatakan bahwa keberhasilan JETP Indonesia penting, bukan hanya karena merupakan yang terbesar, tetapi juga karena menjadi ujian atas komitmen G7 dalam bekerja sama dengan negara-negara berkembang.
Indonesia juga telah menggandeng Tiongkok untuk membantu pengembangan energi terbarukan.
Sumber: Reuters.com, 1 November, 2023
*Artikel ini diterjemahkan dari bahasa Inggris