Pada Juli lalu, di sebuah ballroom mewah di Istana Versailles, kepala perusahaan Taiwan ProLogium memotong salah satu baterai solid-state miliknya yang seukuran kartu kredit menjadi dua. Bola lampu kecil yang terhubung ke baterai itu tetap menyala.

Presiden Emmanuel Macron terkesima melihat demonstrasi keamanan dan daya tahan teknologi generasi baru ini—yang banyak diharapkan akan menjadi penggerak kendaraan listrik (EV) ke depan—menurut dua sumber yang hadir dalam pertemuan tersebut. “Kami akan permudah semua urusan Anda dan bantu Anda membuka usaha di sini,” ujar Macron kepada CEO ProLogium, Vincent Yang.

Sepuluh bulan kemudian, Macron dan Yang berdiri bersama di Dunkirk untuk mengumumkan bahwa ProLogium memilih pelabuhan Prancis utara itu, mengalahkan lokasi di Jerman dan Belanda, sebagai tempat gigafactory baterai EV pertama mereka di luar Taiwan.

Pabrik ini merupakan satu dari empat gigafactory yang diharapkan Macron dapat mengubah wilayah bekas tambang batu bara dekat perbatasan Belgia menjadi pusat industri baterai EV, menciptakan lapangan kerja dan membawa Prancis ke garis depan dalam transisi energi Eropa.

Tidak Terjadi Secara Kebetulan

Wawancara dengan 10 pejabat pemerintah dan eksekutif perusahaan menunjukkan bahwa Prancis benar-benar “menggelar karpet merah”, menawarkan subsidi besar kepada produsen baterai berkat pelonggaran aturan bantuan negara Uni Eropa untuk proyek energi hijau—ditambah pendekatan personal dari Macron sendiri.

Sejak Macron menjabat pada 2017, sejumlah kebijakan seperti pemangkasan pajak perusahaan, kemudahan perekrutan dan pemutusan hubungan kerja, serta pengurangan pajak produksi juga menjadi faktor penarik.

Selain ProLogium, perusahaan Tiongkok Envision AESC, startup lokal Verkor, dan konsorsium ACC (yang mencakup Mercedes dan Stellantis) juga membangun gigafactory di wilayah yang sama. Pejabat Prancis juga dikabarkan sedang mendekati raksasa EV Tiongkok BYD dan Tesla untuk mendirikan pabrik mobil.

“Keberhasilan tidak turun dari langit begitu saja,” ujar Macron kepada Reuters di Dunkirk. “Ini adalah hasil dari kerja selama enam tahun. Prancis sedang beradaptasi dengan dunia.”

“Perlombaan dalam Eropa”

Produsen mobil berlomba menghasilkan kendaraan yang lebih ramah lingkungan dan mengamankan rantai pasokan mereka dengan membangun pabrik baterai EV lebih dekat ke lokasi produksi. Industri ini sejauh ini didominasi oleh perusahaan dari Tiongkok, Korea Selatan, dan Jepang.

Di sisi lain, pemerintah Eropa khawatir investasi akan lari ke Amerika Serikat setelah munculnya US Inflation Reduction Act (IRA) senilai USD 430 miliar, yang memberikan subsidi besar untuk pengurangan emisi dan penguatan manufaktur domestik.

Oleh karena itu, transformasi wilayah utara Prancis menjadi pusat gigafactory dianggap sebagai kemenangan dalam menjaga kedaulatan ekonomi dan industri Eropa di tengah persaingan ketat dari AS dan Tiongkok.

Namun, aksi Macron juga menunjukkan meningkatnya persaingan antarnegara Eropa dalam memperebutkan investasi besar dari perusahaan otomotif dan pemasoknya.

“Presiden selalu memperjuangkan Eropa, tapi ini juga perlombaan antarnegara Eropa,” kata seorang diplomat Prancis yang menolak disebutkan namanya.

Dengan kesepakatan ProLogium dan peresmian pabrik ACC bulan lalu, Macron berharap menunjukkan kepada publik bahwa reformasi pro-bisnisnya membuahkan hasil—dan mengalihkan perhatian dari protes besar terkait kebijakan kenaikan usia pensiun.

Namun saat ini, Prancis masih jauh tertinggal dibandingkan Jerman dalam hal kapasitas produksi baterai. Termasuk pabrik ProLogium berkapasitas 48 gigawatt-jam (GWh), Prancis baru memiliki total 169 GWh dari proyek yang ada dan direncanakan. Bandingkan dengan Jerman yang mencapai 545 GWh dan Hungaria dengan 215 GWh, menurut data dari Heiner Heimes, pakar produksi baterai di RWTH Aachen University, Jerman.

Mengejar Ketertinggalan

Prancis mulai menyusul berkat kedermawanan pendanaan proyek di awal. Untuk menarik ProLogium yang berencana membangun pabrik senilai €5,2 miliar dan menciptakan 3.000 pekerjaan, Prancis menawarkan lebih dari €1 miliar insentif, menurut salah satu sumber.

Pemerintah Prancis dan pihak ProLogium menolak mengomentari jumlah dukungan karena masih menunggu persetujuan dari Komisi Eropa, dan jumlah finalnya masih bisa berubah.

Untuk pabrik senilai €2,3 miliar milik ACC—perusahaan baterai gabungan Stellantis, Mercedes, dan TotalEnergies—Prancis memberikan sekitar €840 juta subsidi, termasuk untuk penelitian dan pengembangan.

ACC juga berencana membangun dua pabrik serupa di Jerman dan Italia, masing-masing dengan dukungan €437 juta dan €370 juta dari pemerintah setempat.

CEO Mercedes-Benz Group, Ola Kaellenius, mengatakan bahwa pendekatan mereka adalah membangun gigafactory di setiap wilayah dekat pabrik mobil. Insentif ekonomi dari negara menjadi faktor penting dalam perhitungan bisnis.

Agar bisa bersaing dengan subsidi IRA dari AS, Macron melobi Brussel agar negara anggota UE bisa memberikan subsidi setara. Uni Eropa akhirnya menyetujui pelonggaran aturan bantuan negara pada Februari, yang memungkinkan Prancis meluncurkan paket kredit pajak hijau hingga 40% dari investasi modal perusahaan dalam proyek energi terbarukan seperti angin, surya, pompa panas, dan baterai.

“Biasanya dukungan untuk industri besar sekitar 10–15%. Tapi sekarang bisa lebih tinggi,” kata Marc Mortureux dari asosiasi industri otomotif Prancis, PFA. “Sekarang kita menyamai level subsidi AS.”

“Pria yang Menawan”

Xavier Bertrand, kepala wilayah tempat pabrik berada, menyebut bahwa mereka bisa mempercepat proyek dalam waktu setengah dari waktu yang dibutuhkan wilayah Prancis lain karena seluruh izin dikerjakan secara paralel.

Prancis juga memberi insentif tunai hingga €5.000 bagi pembeli mobil listrik baru, dengan syarat mobil tersebut memenuhi standar emisi karbon rendah—yang secara efektif menyingkirkan banyak mobil non-Eropa yang menggunakan energi kotor.

Namun, subsidi besar dari AS hampir menggagalkan rencana investasi ProLogium di Prancis, ungkap salah satu penasihat presiden.

Pada April, penasihat Macron dan tim ProLogium menggelar pertemuan penting di Paris setelah perusahaan menyatakan butuh “tambahan kecil” untuk meyakinkan dewan direksi agar memilih Prancis.

Menurut sumber tersebut, kesepakatan akhirnya tercapai setelah Macron berjanji akan hadir langsung di seremoni penandatanganan, memberikan dorongan publisitas bagi ProLogium.

“Macron pria yang menawan,” ujar Vincent Yang kepada Reuters. Namun ia menambahkan bahwa listrik murah dari pembangkit nuklir Gravelines di dekat lokasi proyek sama pentingnya, jika tidak lebih.

Pejabat Prancis menyatakan bahwa gigafactory ini hanyalah awal dari kembalinya industri ke tanah Prancis setelah dua dekade relokasi ke negara berbiaya rendah, berkat reformasi sisi penawaran yang digalakkan pemerintah.

Namun beberapa politisi oposisi mengkritik bahwa Macron hanya membuat Prancis terlalu tergantung pada perusahaan asing yang bisa berpaling sewaktu-waktu demi insentif lebih tinggi dari negara lain.

“Dunkirk kini diisi investor Tiongkok dan Taiwan,” ujar Fabien Roussel, ketua Partai Komunis Prancis. “Para pemegang saham ini bisa saja menarik diri kapan saja. Apa yang terjadi jika negara tidak punya jaminan atau saham dalam bisnis ini?”

 

Sumber: Channel News Asia

*Artikel ini diterjemahkan dari bahasa Inggris