Menurut data dari Statista, hanya 32.000 dari 125 juta sepeda motor yang berbasis listrik. Dengan data tersebut, Pemerintah Indonesia memiliki niat untuk mengubah hal ini dengan memberikan subsidi sebesar US$455 juta guna mendorong produksi 800.000 sepeda motor listrik baru dan konversi 200.000 skuter berbahan bakar bensin menjadi listrik.

Dikutip dari Rethink Energy yang menyatakan bahwa pertumbuhan pasar sepeda motor listrik roda dua (e2W) di Indonesia akan memberikan kontribusi signifikan terhadap target global mencapai 100 juta e2W pada tahun 2027. Mengingat Indonesia sendiri memiliki 125 juta sepeda motor berbahan bakar fosil, bahkan setelah target global tercapai, masih akan ada jalan panjang yang harus ditempuh.

Indonesia merupakan negara dengan lebih dari 17.000 pulau dan populasi mencapai 280 juta jiwa. Negara ini adalah negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia. Area perkotaan yang padat menjadikan sepeda motor sebagai alat transportasi utama. Sepeda motor menjadi pilihan paling efisien, terjangkau, dan fleksibel untuk mobilitas dari pintu ke pintu. Namun, sepeda motor juga menjadi penyumbang utama polusi udara, sehingga kebutuhan akan kendaraan listrik roda dua (e2W) sangat penting di Indonesia.

Statista menyebutkan: “Indonesia memproduksi dan merakit sebagian besar sepeda motor yang dijual secara domestik, serta mengekspor ke negara-negara Asia lainnya dan dunia. Hal ini memungkinkan pasar sepeda motor Indonesia tumbuh hingga total pendapatan pasar sekitar US$6,03 miliar pada tahun 2022.”

Lebih dari lima juta sepeda motor baru terjual di Indonesia pada 2022. Skuter dengan kapasitas mesin 125 cc menjadi yang paling populer karena murah dan cocok untuk perjalanan jarak pendek dengan kecepatan rendah atau sedang. Indonesia memproduksi sepeda motor cukup untuk kebutuhan dalam negeri dan ekspor ke Filipina, Vietnam, dan Thailand.

Merek asal Jepang seperti Honda, Yamaha, dan Suzuki mendominasi pasar sepeda motor Indonesia, dengan produksi di pabrik lokal. Honda, melalui kerja sama dengan PT Astra, memiliki pangsa pasar 73,8%. Mereka adalah agen tunggal untuk produksi, perakitan, dan distribusi sepeda motor Honda di Indonesia. Model andalan mereka adalah Honda Beat dan Honda Vario. Pada tahun 2022, perusahaan ini mencatat pendapatan bersih sekitar Rp3,96 triliun (sekitar US$270 juta).

Astra Honda berencana mengembangkan tujuh model motor listrik pada tahun 2030. Permintaan akan tinggi karena Gojek, pemimpin layanan ride-hailing Indonesia, berencana mengkonversi seluruh armadanya menjadi listrik pada 2030. Gojek mengklaim memiliki 2 juta mitra pengemudi, dan terus bertambah. Mereka ingin semua pengemudinya menggunakan sepeda motor listrik di Indonesia.

Untuk mempercepat transisi ke kendaraan listrik, pemerintah Indonesia mengumumkan subsidi untuk pembelian e2W baru dan konversi motor bensin yang ada. Diharapkan hal ini akan mendorong investasi di industri lokal untuk produksi baterai dan sepeda motor listrik serta mempercepat adopsi massal kendaraan listrik.

Dewan Internasional untuk Transportasi Bersih (ICCT) memberikan rincian lebih lanjut: “Pada Desember 2022, Menteri Perindustrian Indonesia, Agus Gumiwang, mengumumkan rencana pemerintah untuk memberikan subsidi pembelian mobil listrik, mobil hybrid, dan sepeda motor listrik, serta subsidi biaya konversi sepeda motor bensin ke listrik. Dalam skema ini, subsidi sebesar Rp80.000.000 (~US$5.130) diberikan untuk pembelian kendaraan listrik murni dan setengah dari jumlah itu untuk kendaraan hybrid. Sepeda motor listrik baru akan mendapatkan subsidi pembelian Rp8.000.000 (~US$520), dan pemerintah akan membayar Rp5.000.000 (~US$320) untuk konversi motor berbahan bakar bensin ke listrik.”

“Kami meluncurkan program ini agar adopsi kendaraan listrik berbasis baterai secara massal dapat segera tercapai, dan industri transportasi Indonesia dapat bertransformasi menjadi industri yang lebih ramah lingkungan,” kata Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Pandjaitan dalam konferensi pers Maret 2023. Kendaraan yang memenuhi syarat subsidi harus memenuhi persyaratan tingkat kandungan lokal minimum. Pemerintah berharap dengan menambah 1 juta e2W pada 2024 dan 1 juta lagi pada 2025, akan tercipta fasilitas produksi EV yang memanfaatkan cadangan nikel Indonesia untuk baterai dan mengurangi konsumsi bahan bakar fosil. Diharapkan Tesla juga bisa berkontribusi dalam ekosistem baterai Indonesia dan memperluas armada EV.

Pemerintah Indonesia mempelajari pendekatan dari negara lain, terutama Tiongkok. Selain kendaraan pribadi, Presiden Joko Widodo juga baru-baru ini mengumumkan subsidi untuk kendaraan umum listrik yang diproduksi secara lokal atau memenuhi kandungan lokal minimum. Besaran subsidi untuk bus belum diumumkan secara rinci.

Inisiatif yang dipimpin pemerintah untuk mempercepat adopsi EV diperkirakan akan meningkatkan investasi pada pengolahan nikel dan manufaktur baterai. Indonesia Battery Corporation (IBC) menargetkan pangsa pasar lokal hingga 30% untuk sepeda motor listrik. IBC tahun lalu mengakuisisi mayoritas saham PT Wika Industri Manufaktur dan produsen skuter listrik Gesits, yang saat ini memiliki kapasitas produksi 40.000 unit per tahun. Gesits menargetkan kapasitas produksi hingga 100.000 e2W dalam beberapa tahun ke depan.

Insentif pemerintah “diperkenalkan di Tiongkok 10 tahun lalu. Sekarang penjualan tahunan motor listrik mereka telah melebihi 30 juta unit,” ujar CEO IBC Toto Nugroho kepada Reuters.

Produsen baterai sudah mulai membangun fasilitas di Indonesia. LG telah memulai pembangunan pabrik baterai senilai US$1,1 miliar/kapasitas 10 GWh, yang sudah 70% selesai dan diperkirakan mulai berproduksi tahun depan. IBC menjadi mitra lokal untuk LG dari Korea Selatan dan CATL dari Tiongkok. LG menargetkan produksi cukup baterai untuk sekitar 200.000 mobil listrik atau hingga 2,5 juta e2W di Indonesia. IBC juga akan merakit sendiri paket baterainya, yang dapat membantu menurunkan harga motor listrik mereka hingga sekitar 15%, kata Toto.

GESITS (Garansindo Electric Scooter ITS) kini mayoritas sahamnya dimiliki oleh IBC dan diprediksi akan mendominasi pasar e2W. “GESITS lahir dari mimpi untuk menciptakan alat transportasi yang ramah lingkungan dan modern yang dibuat oleh perusahaan Indonesia. Skuter Gesits dilengkapi motor listrik 5 KW, baterai lithium-ion 50 volt dan 40 AH yang mampu menempuh jarak 100 km dalam sekali pengisian daya. Pengisian penuh hanya memerlukan waktu 90 menit.” Skuter ini dilengkapi sistem pengereman regeneratif dan terhubung ke ponsel Android. Pengguna dapat memantau kecepatan, suhu, kondisi baterai, jarak tempuh, dan tegangan melalui ponsel mereka.

Skuter listrik memiliki nilai ekonomis yang baik untuk keperluan bisnis maupun pribadi. “Meskipun kendaraan listrik seperti GESITS lebih mahal untuk diproduksi, biaya operasionalnya jauh lebih rendah. Biaya listrik sekitar US$0,11 per kWh, jadi hanya menghabiskan sekitar US$0,57 untuk menempuh 100 km dengan Gesits.” Penghematan bahan bakar dan biaya perawatan sangat signifikan. Akankah Gesits menjadi VinFast-nya Indonesia?

Otto.com mencatat ada 47 model sepeda motor listrik yang tersedia di Indonesia. Ragam modelnya mulai dari skuter, motor, hingga Harley-Davidson LiveWire (diluncurkan akhir tahun ini). Model-model tersebut termasuk Alva CERVO, Yamaha E01, Alva One, Segway E Series, dan Yadea Sparta. Motor listrik termurah adalah Selis Mandalika 2023 seharga Rp4,8 juta (US$340), yang tampak seperti skuter anak-anak, dan yang termahal adalah Alva CERVO 2023 seharga Rp37,75 juta (US$2500), yang tampak seperti motor besar. Gesits berada di tengah dengan harga Rp28,7 juta (~US$1700). Jadi, menurut saya, subsidi sebesar US$520 seharusnya cukup mendorong adopsi e2W.

Berapa harga sepeda motor berbahan bakar bensin? Pencarian cepat menunjukkan harganya serupa dengan motor listrik. Apa saya melewatkan sesuatu?

Transisi cepat menuju e2W di Indonesia sangat mungkin terjadi berkat insentif pemerintah. Jika mereka berhasil mencapai target 1 juta e2W pada 2023, itu akan setara dengan pangsa pasar 20%. Namun, tantangan seperti akses ke fasilitas pengisian daya, peralihan energi ke sumber hijau, dan penerimaan masyarakat terhadap teknologi baru tetap ada. Mampukah Indonesia mengatasinya? Semoga saja. Saya menantikan kabar baik dalam 24 bulan ke depan, dan berharap pemerintah Indonesia mendapat nilai “Melebihi Harapan”.

Sumber: Clentechnica.com, 30 Juli, 2023

*Artikel ini diterjemahkan dari bahasa Inggris