Ketergantungan Impor Amerika terhadap Mineral Utama
Dorongan menuju masa depan yang berkelanjutan memerlukan berbagai mineral penting untuk membangun infrastruktur ekonomi hijau. Namun, Amerika Serikat sangat bergantung pada impor mineral non-bahan bakar, yang menimbulkan potensi kerentanan rantai pasokan nasional.
Secara khusus, AS 100% bergantung pada impor untuk setidaknya 12 mineral kunci yang dianggap kritis oleh pemerintah, dengan Tiongkok sebagai sumber utama impor untuk banyak dari mineral ini, bersama dengan sejumlah besar mineral kritis lainnya.
Grafik ini menggunakan data dari USGS (U.S. Geological Survey) untuk memvisualisasikan ketergantungan impor Amerika terhadap 30 mineral non-bahan bakar utama, beserta negara asal utama impor masing-masing mineral tersebut.
Ketergantungan Impor AS Berdasarkan Mineral
Meskipun AS menambang dan memproses sejumlah besar mineral secara domestik, pada tahun 2022 impor masih menyumbang lebih dari setengah nilai konsumsi untuk 51 mineral non-bahan bakar. USGS menghitung tingkat ketergantungan impor bersih sebagai persentase dari konsumsi nyata, menunjukkan seberapa besar permintaan AS terhadap suatu mineral dipenuhi melalui impor.
Dari sejumlah mineral penting yang ditentukan oleh USGS, AS bergantung 95% atau lebih pada impor untuk 13 jenis mineral, dengan Tiongkok sebagai pemasok utama.
Mineral-mineral ini mencakup rare earth (kelompok 17 logam berat dengan sifat serupa yang sulit dibedakan), yang sangat penting untuk teknologi, magnet bertenaga tinggi, elektronik, dan industri, serta grafit alami yang digunakan dalam baterai lithium-ion.
Semua mineral ini tercantum dalam daftar mineral kritis pemerintah AS, yang mencakup total 50 mineral, dan AS bergantung pada impor untuk 50% atau lebih dari 43 mineral dalam daftar tersebut.
Beberapa mineral lainnya yang juga tercantum dan 100% bergantung pada impor termasuk arsenik, fluorspar, indium, mangan, niobium, dan tantalum, yang digunakan dalam berbagai aplikasi seperti produksi paduan logam dan semikonduktor, serta komponen elektronik seperti layar LCD dan kapasitor.
Pembatasan Gallium dan Germanium oleh Tiongkok
Ketergantungan AS terhadap impor berbagai mineral mendapatkan tantangan baru akibat pengumuman Tiongkok tentang pembatasan ekspor gallium dan germanium yang mulai berlaku 1 Agustus 2023. AS 100% bergantung pada impor gallium dan 50% bergantung pada impor germanium.
Pembatasan ini dipandang sebagai bentuk balasan terhadap sanksi dari AS dan Uni Eropa terhadap Tiongkok, yang telah membatasi ekspor chip dan peralatan pembuat chip.
Gallium dan germanium digunakan dalam produksi transistor dan semikonduktor, serta panel dan sel surya, dan pembatasan ini menjadi hambatan tambahan bagi rantai pasokan teknologi penting AS seperti lampu LED dan sistem serat optik untuk transmisi data kecepatan tinggi.
Pembatasan ini juga berdampak pada Uni Eropa, yang mengimpor 71% gallium dan 45% germanium dari Tiongkok. Ini menjadi pengingat nyata akan dominasi Tiongkok dalam produksi dan pemrosesan banyak mineral penting dunia.
Pengumuman pembatasan ini semakin menyoroti pentingnya bagi AS dan negara-negara lain untuk mengurangi ketergantungan impor dan mendiversifikasi rantai pasokan mineral dan teknologi utama.
Sumber: Elements.visualcapitalist.com, 4 Agustus, 2023
*Artikel ini diterjemahkan dari bahasa Inggris