PT Bumi Konawe Minerina (Aquila Nickel Group) resmi mengadopsi teknologi Regulatory Compliance System (RCS) Hukumonline, yang ditandai dengan seremoni yang bertajuk “Go Live Ceremony RCS Aquila Nickel Group”.

Peluncuran ini merupakan langkah strategis perusahaan untuk memperkuat tata kelola kepatuhan hukum berbasis digital sekaligus mempercepat transformasi di sektor industri ekstraktif.

Menurut Arrka Dhiratara selaku Chief  Executive Officer Hukumonline, kepercayaan dari Aquila Nickel Group dalam mengadopsi salah satu produk unggulan Hukumonline merupakan suatu kehormatan bagi mereka.

“Kami merasa sangat terhormat atas peluncuran RCS Hukumonline oleh Aquila Nickel Group hari ini. Semoga sistem ini dapat membantu dan mempermudah dalam proses dan aktivitas bisnis di Aquila Nickel Group,” ungkap Arkka dalam sambutannya, Selasa (12/8/2025).

Pada dasarnya RCS merupakan platform dengan teknologi terbaru untuk menyederhanakan pemantauan kepatuhan tanpa menghambat bisnis. Platform ini mengurangi risiko, menekan biaya, dan membuat perusahaan di berbagai industri semakin yakin dalam melakukan aktivitas kepatuhan hukum. Melalui RCS, regulasi dari tingkat pusat hingga daerah dianalisis untuk mengidentifikasi kewajiban yang relevan bagi perusahaan.

“Produk ini sudah digunakan lebih dari 100 perusahaan di Indonesia, diharapkan membantu Aquila Nickel Group mematuhi aturan secara lebih efektif,” lanjut Arkka.

Chief Executive Officer Aquila Nickel Group, Dmitry Privalov mengatakan pemanfaatan RCS Hukumonline sebagai salah satu cara antisipasi sebelum masalah muncul. Menurutnya, kecepatan menjadi kunci agar perusahaan dapat beradaptasi dengan perubahan regulasi yang begitu cepat.

“Lebih baik mengantisipasi apapun yang mungkin terjadi. Untuk maju, kita perlu bergerak dua kali lebih cepat. Terima kasih Hukumonline untuk memungkinkan ini bisa terjadi,” ujarnya.

Sementara itu, RCS Project Manager Aquila Nickel Group, M. Zainuddin Noor menuturkan bahwa sektor pertambangan menghadapi lebih dari 6.000 kewajiban regulasi dari pemerintah pusat maupun daerah.

Sebagai perusahaan yang berada di industri dengan tingkat kepatuhannya harus tinggi, Ia menilai RCS mempermudah proses identifikasi kewajiban yang berlaku secara spesifik dan menargetkan kepatuhan penuh terhadap regulasi nasional termasuk fitur penerjemahan regulasi ke bahasa Inggris yang akurat

“Platform ini sangat membantu kami untuk memastikan kesesuaian regulasi secara prioritas dan membangun kepercayaan dari regulator, mitra bisnis, hingga masyarakat,” ujar Zainuddin.

Peluncuran RCS ditandai dengan pengaktifan simbolis platform oleh RCS Project Manager Aquila Nickel Group, M. Zainuddin Noor bersama jajaran manajemen Aquila Nickel Group yaitu CEO Aquila Nickel Group Dmitry Privalov; Direktur Aquila Nickel Group Yohanes Herby G. Mogot; Direktur PT Bumi Konawe Minerina Fahrulina Wartabone; dan pemangku kepentingan lainnya.

Peluncuran RCS di Aquila Nickel Group diharapkan menjadi tonggak baru bagi Aquila Nickel Group dalam penerapan praktik bisnis yang etis dan berkelanjutan di Indonesia. Hukumonline berharap kolaborasi tersebut dapat membuat Aquila Nickel Group semakin patuh terhadap regulasi.

Sumber: Hukumonline.com, 12 Agustus 2025