Seorang diplomat senior pada Selasa memberikan beberapa petunjuk bahwa sebuah perusahaan Eropa sudah serius berencana membangun smelter nikel di Indonesia, meskipun pejabat pemerintah tersebut enggan memberikan rincian lebih lanjut.

Indonesia telah menghentikan ekspor bijih nikel mentah sejak 2020 sebagai upaya untuk mendorong peleburan nikel di dalam negeri dan menarik investor asing. Larangan tersebut mendorong Uni Eropa (UE) untuk menggugat Indonesia di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) karena blok tersebut khawatir kebijakan tersebut merugikan produksi baja tahan karat. Meskipun ada gugatan, larangan tersebut tampaknya telah mendorong beberapa investasi Eropa di industri hilir nikel Indonesia.

“Kami saat ini sedang bernegosiasi mengenai investasi yang nilainya cukup besar dengan beberapa perusahaan Eropa. Saya tidak dapat mengungkapkan nama-nama mereka, tetapi investasi ini terkait dengan industri hilir nikel, di antaranya,” kata Umar Hadi, Direktur Jenderal Urusan Eropa dan Amerika di Kementerian Luar Negeri, kepada wartawan di Jakarta pada Selasa.

“Salah satu perusahaan Eropa akan membangun smelter nikel di Indonesia untuk memasok industri baterai dan kendaraan listrik,” kata Umar.

Diplomat tersebut menolak untuk mengungkapkan lokasi pabrik peleburan yang dimaksud. Umar juga mengungkap rencana Eropa untuk berinvestasi dalam “proyek lain”. Namun, ia tidak menyebutkan apakah proyek lain tersebut juga merupakan smelter nikel.

“Jadi, singkatnya, akan ada dua perusahaan yang bekerja pada satu proyek. Dan satu perusahaan lagi akan berinvestasi dalam proyek lain,” kata Umar, menanggapi investasi Eropa yang misterius.

Ketika ditanya apakah pembicaraan masih berada pada tahap awal, Umar mengatakan kepada wartawan bahwa investor Eropa “sudah serius tentang hal itu”.

Presiden Joko “Jokowi” Widodo sering memuji industri pengolahan nikel hilir Indonesia sebagai kesuksesan ekonomi yang besar. Jokowi baru-baru ini mengatakan bahwa Indonesia dulu mendapatkan Rp 30 triliun ($1,9 miliar) saat mengekspor bijih nikel mentah. Nilai ekspor melonjak menjadi setidaknya Rp 510 triliun setelah larangan ekspor diberlakukan.

Indonesia telah mengajukan banding ke WTO setelah kalah dalam gugatan nikel. Akan tetapi, banding yang diajukan Jakarta hingga kini belum ditinjau. Mekanisme banding WTO saat ini tidak berfungsi. AS menolak menunjuk anggota baru ke badan banding, yang bertugas menangani banding.

Menurut laporan Survei Geologi AS tahun 2023, Indonesia dan Australia memiliki cadangan nikel terbesar di dunia. Cadangan nikel kedua negara tersebut masing-masing mencapai 21 juta ton metrik.

 

Sumber: JakartaGlobe.id, 10 Oktober, 2023

*Artikel ini diterjemahkan dari bahasa Indonesia