BYD, produsen kendaraan listrik (EV) terbesar di dunia yang didukung oleh Berkshire Hathaway milik Warren Buffett, telah mengambil langkah awal untuk membangun pabrik perakitan keduanya di Asia Tenggara dengan menandatangani perjanjian awal dengan pemerintah Indonesia.

Produsen mobil asal Shenzhen ini berencana membangun ekosistem EV untuk menjajaki peluang pengembangan di Indonesia, menurut pernyataan pemerintah Indonesia minggu lalu. Pemerintah tidak memberikan rincian lebih lanjut, dan BYD menyatakan tidak akan berkomentar lebih jauh terkait perjanjian tersebut.

“Asia Tenggara akan menjadi pasar pertumbuhan utama bagi perusahaan EV Tiongkok karena populasinya yang padat dan permintaan kendaraan ramah lingkungan yang terus meningkat,” kata Gao Shen, analis independen di Shanghai. “EV buatan Tiongkok telah diterima dengan baik di kawasan ini dan perusahaan seperti BYD disambut untuk membangun lini produksi di sana.”

Kesepakatan ini menunjukkan bahwa Indonesia, dengan populasi 280 juta jiwa, melaju lebih cepat dibandingkan Vietnam dan Filipina—dua negara Asia Tenggara lainnya yang juga berambisi membangun industri EV mereka. Hanoi dan Manila dikabarkan juga mengundang BYD untuk mendirikan pabrik di negara mereka, menurut Bloomberg.

“Kami menghargai inisiatif BYD untuk menjajaki peluang ini lebih jauh,” kata Luhut B. Pandjaitan, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi RI, dalam pernyataannya. “Dengan sumber daya alam yang melimpah, lokasi geografis yang strategis, dan dukungan pemerintah, saya yakin Indonesia memiliki elemen penting untuk membangun industri EV domestik.”

Pabrikan EV tersebut memulai konstruksi pabrik pertamanya di kawasan Asia Tenggara di Thailand pada bulan Maret. Rata-rata empat juta mobil terjual di Asia Tenggara setiap tahunnya, dan pabrik BYD tersebut akan memiliki kapasitas produksi 150.000 unit EV per tahun saat selesai dibangun tahun depan.

BYD berhasil menggeser Tesla sebagai produsen EV terbesar di dunia dengan mencatatkan pengiriman 1,86 juta unit tahun lalu—tiga kali lipat lebih banyak dari tahun 2021. Tesla sendiri mengirimkan sekitar 1,31 juta unit EV tahun lalu. Meskipun jumlah itu meningkat sekitar 40% dibandingkan tahun sebelumnya, Tesla tetap gagal mencapai target 2022 mereka yakni lebih dari 1,4 juta unit.

Sebagian besar penjualan BYD tahun 2022 berasal dari Tiongkok daratan. Penjualan mobil listrik murni dan hibrida plug-in di Tiongkok menyumbang sekitar 60% dari total global, atau 6,5 juta unit pada tahun lalu.

Menurut UBS, penjualan EV di Tiongkok, yang merupakan pasar terbesar di dunia untuk kendaraan listrik, diperkirakan akan melonjak 35% pada tahun ini menjadi 8,8 juta unit. Negara tersebut juga diperkirakan akan melampaui Jepang sebagai eksportir kendaraan terbesar di dunia tahun ini. Menurut China Business Journal, produsen mobil Tiongkok mengekspor 1,07 juta kendaraan (termasuk berbahan bakar bensin dan listrik) pada kuartal pertama tahun ini, mengalahkan Jepang yang mengekspor 1,047 juta unit pada periode yang sama.

Terkait BYD, sebelumnya Elon Musk sempat mengatakan, “Saya tidak menganggap itu menarik, teknologinya tidak terlalu kuat,” dalam wawancara beberapa tahun lalu.

Namun pada hari Jumat, Musk menanggapi cuplikan wawancara itu—yang dibagikan oleh Tesla Owners of Silicon Valley (klub penggemar resmi Tesla di AS) di Twitter—dan mengatakan,
“Itu beberapa tahun yang lalu. Mobil mereka sekarang sangat kompetitif.”

Sumber: South China Morning Post

*Artikel ini diterjemahkan dari bahasa Inggris