
Lampu sorot di Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) menyala sepanjang malam. Selama 24 jam, lebih dari 40.000 pekerja mengoperasikan kawasan seluas 8.000 hektar tersebut, yang sepuluh tahun lalu hanyalah hutan hujan lebat di Sulawesi, pulau terbesar keempat di Indonesia. Kini, kawasan industri luas ini—yang banyak orang sebut cukup dengan “IMIP”—memiliki pelabuhan, bandara, asrama untuk pekerja asal Tiongkok, hotel bintang empat, dan tiga masjid.
Namun pada intinya, IMIP ada untuk melebur dan memurnikan dalam skala besar satu jenis mineral: nikel.
Dulu digunakan terutama untuk membuat baja tahan karat, nikel kini semakin dibutuhkan untuk produksi baterai lithium-ion bagi kendaraan listrik (EV). Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan bahwa pada tahun 2040, teknologi energi bersih akan menyerap hingga 70% dari total permintaan nikel dunia.
Bagi Indonesia, ini merupakan peluang besar: negara ini sudah menjadi penambang nikel terbesar di dunia, dengan hampir setengah dari pasokan global berasal dari Indonesia pada tahun 2022, dan kini menargetkan posisi utama dalam rantai pasok industri kendaraan listrik.
IMIP adalah bukti bahwa Indonesia mampu naik dalam rantai nilai dari sumber daya alamnya yang melimpah. Sekitar satu dekade lalu, Indonesia menerapkan strategi “nasionalisme sumber daya” dengan melarang ekspor mineral mentah, demi mendorong investasi asing dalam pemurnian dan peleburan di dalam negeri. Langkah ini sempat membuat investor asing panik, hingga perusahaan tambang besar seperti Rio Tinto memutuskan keluar dari Indonesia.
Namun ada satu investor asing yang justru menggandakan investasinya: Xiang Guangda, pendiri produsen baja tahan karat asal Tiongkok, Tsingshan Group.
Melalui usaha patungan dengan perusahaan tambang lokal, Tsingshan menginvestasikan miliaran dolar sejak 2013 untuk membangun kawasan industri di Morowali. Kini, IMIP menjadi salah satu pusat ekonomi terpenting di Indonesia, dan Tsingshan—yang dulu hanya pemain kecil yang bersaing dengan BUMN baja besar Tiongkok—telah menjadi produsen baja tahan karat terbesar di dunia.
Tsingshan juga berperan sebagai semacam “penjaga gerbang” untuk sebagian besar industri nikel Indonesia, yang menjadi masalah bagi negara-negara Barat.
Karena kesuksesan besar IMIP dan kawasan industri lain yang dimiliki Tsingshan, perusahaan tambang dan baterai asal Tiongkok lainnya (seperti Zhejiang Huayou Cobalt, China Molybdenum, CATL, dan GEM Co.) mengikuti jejak Tsingshan. Dalam satu dekade terakhir, Tiongkok telah menanamkan lebih dari $29 miliar di pulau Sulawesi dan Maluku Utara—wilayah yang sebelumnya tertinggal namun kaya akan cadangan nikel. Sebagai perbandingan, total investasi gabungan dari Kanada, AS, dan Australia bahkan kurang dari $2 miliar.
Perusahaan-perusahaan Tiongkok juga membangun sebagian besar infrastruktur pendukung di sekitar fasilitas pemurnian nikel Indonesia, sehingga secara efektif mereka mengontrol akses ke sana.
“Internet, jalan, pelabuhan, logistik—sebagian besar dibangun oleh perusahaan Tiongkok,” jelas Angela Tritto, asisten profesor di Universitas Brunei Darussalam. Ia menambahkan bahwa jejak infrastruktur Tsingshan juga makin meluas: “Ada banyak perusahaan di bawah payung Tsingshan, termasuk anak usaha energi yang mengelola pembangkit listrik tenaga batu bara, misalnya.”
Perwakilan Tsingshan dan IMIP tidak menanggapi beberapa permintaan komentar untuk artikel ini.
Investor global kini berlomba-lomba mencari pijakan di pasar nikel, salah satu mineral paling penting abad ini. Pada bulan Maret, Ford mengumumkan investasi di pemrosesan nikel di Sulawesi, dan Menteri Investasi Indonesia menyebut bahwa Volkswagen juga akan menyusul. Perusahaan seperti Eramet (Prancis) dan BASF (Jerman) juga menanamkan investasi di pemrosesan nikel Indonesia untuk baterai EV.
“Indonesia adalah Arab Saudi-nya pasar nikel dunia,” kata Cullen Hendrix, peneliti senior di Peterson Institute for International Economics. “Motivasi Ford dan perusahaan lain adalah kekhawatiran akan rapuhnya rantai pasok ini.”
Juru bicara Ford mengatakan kepada The Wire bahwa investasinya di Indonesia “akan membantu membuat baterai kendaraan listrik lebih terjangkau bagi lebih banyak pelanggan.” Namun belum jelas apakah itu termasuk pelanggan AS, karena proyek Ford melibatkan kemitraan dengan perusahaan Tiongkok, Huayou Cobalt.
AS telah mengesahkan Undang-Undang Pengurangan Inflasi (IRA), yang memberikan insentif pajak untuk EV dengan persyaratan asal-usul komponen tertentu, guna mengurangi ketergantungan terhadap perusahaan Tiongkok. Karena AS dan Indonesia tidak memiliki perjanjian perdagangan bebas, maka mobil yang mengandung nikel dari Indonesia berpotensi tidak memenuhi syarat untuk mendapat insentif pajak tersebut. Indonesia pun mengusulkan perjanjian dengan AS, tetapi keterlibatan Tiongkok yang begitu dalam di industri nikel Indonesia bisa menjadi penghalang.
“Indonesia akan menjadi produsen nikel terbesar dekade ini, dan [AS] ingin mendorong penjualan EV,” kata Henry Sanderson, penulis buku Volt Rush: The Winners and Losers in the Race to Go Green. “Inilah kontradiksi mendasar dari IRA. Akan sulit bagi AS untuk mencapai tujuan iklim dan geopolitik secara bersamaan.”
Terlebih karena perusahaan Tiongkok seperti Tsingshan tidak tinggal diam. Menyadari masa depan ada pada EV, Tsingshan bersiap melakukan penawaran saham perdana (IPO) anak usahanya, REPT Battero Energy Co., dan berniat menggunakan dana tersebut untuk mempercepat pembangunan kapasitas produksi baterai. Dengan masuk ke bisnis baterai, Tsingshan akan menjadi unik di antara produsen baterai: dengan operasinya di IMIP dan pabrik baterai di Tiongkok, perusahaan ini akan menguasai seluruh rantai pasok—dari tambang, peleburan, hingga perakitan baterai. Seperti yang dicatat Sanderson, bahkan BYD, pembuat mobil top asal Tiongkok, belum mencapai tingkat integrasi vertikal seperti itu.
“Akan sangat kuat jika Tsingshan berhasil,” katanya.
Sumber; The Wire China, 7 Mei 2023
*Artikel ini diterjemahkan dari bahasa Inggris